Sejarah Tanjung Palette
Tanjung Pallette memiliki sejarah dan cerita legenda yang kaya. Dalam catatan sejarah, La Tenriruwa, raja Bone ke-11, menerima agama Islam dan mengucapkan syahadat di Tanjung Pallette pada tahun 1611. Peristiwa ini menjadi momen penting yang menandai masuknya Islam ke Kerajaan Bone. Selain itu, warga setempat mengenang bahwa di Tanjung Pallette pernah berdiri sebuah rumah yang disebut bola soba. Rumah ini perlahan-lahan lapuk dan hancur, tetapi kemudian direnovasi pada tahun 1968 oleh Andi Baso Amir, Kepala Daerah Bone pada periode 1967-1969. Sosok yang juga dikenal sebagai seorang seniman ini sering menghabiskan waktu di Tanjung Pallette pada akhir pekan, menjadikannya sebagai awal mula tempat tersebut dikenal sebagai kawasan wisata di Kabupaten Bone. Salah satu legenda dari Tanjung Pallette adalah fungsinya di masa lalu sebagai tempat eksekusi bagi pelanggar adat yang disebut tomalaweng. Dalam tradisi Bone, pelanggaran adat yang paling berat, seperti perzinahan, dihukum dengan cara ditenggelamkan ke laut. Proses eksekusi ini, yang dikenal sebagai riladung, dilakukan setelah pelanggar dikafani dan disetujui oleh ade pitu. Pasangan pelaku perzinahan diikat bersama, lalu dibawa sejauh satu mil laut ke arah timur Tanjung Pallette sebelum ditenggelamkan. Legenda ini menjadi bagian dari warisan budaya Bone yang masih diingat hingga kini.
Kabupaten Bone terletak di pesisir timur Sulawesi Selatan dengan garis pantai sepanjang 130,45 km yang berbatasan dengan Teluk Bone. Wilayah ini memiliki potensi wisata yang beragam, termasuk kawasan wisata Tanjung Pallette. Tanjung Pallette berada di Kelurahan Pallette, sekitar 12 km dari pusat Kota Watampone. Destinasi ini menjadi salah satu daya tarik utama di pesisir Kabupaten Bone. Letaknya yang strategis membuatnya mudah diakses oleh wisatawan lokal maupun luar daerah. Tanjung Palette adalah kawasan hutan lindung yang telah diubah menjadi tempat wisata, namun tetap menjaga kelestarian lingkungannya. Keindahan alam dan pantai yang menawan membuatnya menjadi salah satu destinasi favorit. Nama “Pallette” memiliki dua versi cerita asal-usul yang diwariskan secara turun-temurun. Menurut versi pertama, nama Pallette berasal dari kisah seorang pelaut yang perahunya terdampar di pantai dengan daratan yang menjorok ke laut, yang oleh masyarakat Bugis disebut sebagai “Tanjong.” Dari tengah laut, pelaut tersebut melihat sebuah batu besar yang menyerupai rumah, berdiri di antara pepohonan di hutan belantara. Ia kemudian naik ke tanjong dan berjalan menuju batu besar tersebut, yang oleh penduduk lokal disebut “bola batue.” Pelaut tersebut akhirnya memutuskan untuk tinggal di sana, dan namanya, Pua’ Lette, menjadi asal-usul nama Pallette. Versi kedua menyebutkan bahwa Pallette awalnya merupakan bagian dari daratan Kelurahan Waetuo. Namun, suatu ketika, terjadi kilat disertai suara dentuman guntur yang sangat keras, menyebabkan pergeseran tanah hingga Pallette terpisah dari Waetuo. Peristiwa ini ditandai dengan munculnya retakan tanah yang terisi oleh air laut, membentuk pemisah antara kedua daratan tersebut. Dalam bahasa Bugis, guntur dikenal dengan sebutan “Lette,” yang kemudian menjadi asal mula nama Pallette.
Pallette menawarkan keindahan alam yang memukau, seolah menjadi mahakarya alam yang tersembunyi di balik jendela langit. Angin laut yang bertiup lembut menambah kesegaran, melewati rimbunan pepohonan hijau yang menyelimuti kawasan ini. Di sisi timur, barat, dan utara, Pallette dikelilingi oleh lautan biru yang seolah menjadi pelindung alami, menciptakan kesan eksotik yang memikat setiap pandangan. Di pagi hari, Tanjung Pallette menghadirkan momen magis saat matahari perlahan muncul dari ufuk timur, memberikan suasana damai yang memikat hati. Pada sore hari, keindahannya semakin sempurna dengan pemandangan matahari terbenam di ufuk barat, menghasilkan semburat warna keemasan yang menyelimuti langit dan menciptakan pemandangan yang tak terlupakan.









